Untuk menghubungi kami Klik Disini»» atau:

» Tel:+62-21 2986 1684
» Mobile: 0877 4178 8867|0812 8287 8867| 085772523893
» WA: 081282878867
» PIN: 5F2553EE
» Fax:+62-21 2986 1684
» E-mail: sales@beyond-steel.com

Spesifikasi Light Rail Menjadi Kendala Kelanjutan Proyek LRT Jabodetabek

 spesifikasi light rail


Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berbeda pendapat soal spesifikasi sarana dan prasarana kereta api ringan atau light rail transit di DKI Jakarta serta Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution perbedaan pendapat tersebut dilatarbelakangi atas perbedaan spesifikasi light rail transit (LRT). Dia merinci perbedaan pendapat terkait dengan spesifikasi teknis seperti lebar rel dan model kereta.

“Ya itu mereka [Jonan dan Ahok] memang ada perbedaan pendapat yang tidak bisa diputuskan,” katanya di Kemenko Perekonomian, Jumat (4/3) malam.

Dari sisi operator, kedua pejabat publik itu juga berbeda pendapat. Namun, Darmin menambahkan perbedaan pendapat tidak selebar pada penyediaan sarana dan prasarana.

Menurutnya, masing-masing pihak menganggap pendapatnya benar. Oleh karena itu, pemerintah membentuk tim teknis untuk mengurai perbedaan pendapat itu. Dia menjelaskan tim itu akan menelusuri opsi mana yang lebih murah. Keputusan akhir mengenai spesifikasi sarana dan prasarana LRT bakal ditentukan setelah rapat koordinasi lanjutan yang rencananya digelar pada hari ini, Senin (7/3).

Sementara itu, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menegaskan pihaknya menginginkan spesifikasi sarana dan prasarana standar internasional. Menurutnya, penggunaan sarana dan prasarana standar lebih murah ketimbang memesan kereta khusus.

Dia memakai logika ekonomi yaitu semakin banyak penawaran maka harga kian murah. Penilaian murah bagi Ahok tidak cuma saat pembelian awal, tetapi juga jangka panjang ketika masuk fase pengoperasian.

Namun, Darmin menyatakan Jonan berpendapat sebaliknya. Memesan sarana dengan spesifikasi khusus belum tentu lebih mahal. “Nah ini yang kita berdebat tadi, mau ikut yang mana,” tegasnya.

PERLU JAMINAN

Ahok membenarkan bisa jadi pemesanan khusus lebih murah. Namun, dia khawatir penyedia sarana bakal menaikkan harga secara sepihak.

“Apa cuma pertamanya murah tapi habis itu kita dikerjain. Pertanyaannya ada jaminan tidak? Udah enak sama kamu [penyedia sarana] terus naikin harga gimana?”

Dia menuntut Jonan memberikan hitungan yang jelas. Setelah itu, kedua opsi akan dibandingkan menggunakan parameter yang sebanding. Pemerintah harus segera memutuskan karena April akan dilakukan lelang.

Lebih jauh, Ahok menjelaskan dirinya dan Jonan tidak memiliki perbedaan pendapat dalam penancapan trase. Hal paling penting terkait penancapan trase haruslah konsisten.

“Kalau di tiga ya harus tiga terus, tidak boleh misalnya tiga tiba-tiba jadi dua gara-gara ada tiang,” tambahnya.

Sutanto Suhodo, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Transportasi menambahkan Ahok tetap ingin LRT DKI Jakarta menggunakan sepur lebar (Standard gauge) dengan ukuran 1.435 mm. Sebaliknya, Jonan menginginkan penggunaan sepur sempit (narrow gauge) selebar 1.067 mm.

Menurut Sutanto, Jonan tetap ingin menggunakan narrow gauge karena dinilai lebih murah, dan menghemat anggaran hingga Rp6 triliun.

Sebaliknya, Ahok memilih Standard gauge lantaran produsennya banyak. Saat ini, negara yang menggunakan jenis narrow gauge mulai berkurang. Kini yang masih bertahan adalah Jepang dan Korea Selatan.

Sutanto menuturkan Jonan sebenarnya mempersilahkan DKI Jakarta menggunakan Standard gauge. Hanya saja, LRT yang ada tidak seragam antara yang dibangun BUMD DKI Jakarta dan BUMN. Selain itu, integrasi yang ada pun hanya berupa integrasi stasiun dan tidak integrasi sarana.

Dengan perbedaan itu, para penumpang LRT Jabodebek bakal turun dahulu sebelum menaiki LRT yang dibangun oleh BUMD DKI Jakarta.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang menilai jenis yang cocok untuk LRT Jabodebek adalah Standard gauge 1.435 mm. Alasannya, Standard gauge sudah menjadi standar pasar global.

Bila Indonesia menggunakan narrow gauge, imbuhnya, pesanannya akan masuk dalam kategori special sehingga biaya yang dikeluarkan akan lebih mahal.

Caption :
Menko Perekonomian membentuk tim teknis guna menentukan lebar sepur LRT.

MTI menilai LRT lebih cocok menggunakan ukuran sepur 1.435 mm.

Sumber : Bisnis Indonesia Edisi 07 Maret 2016 Halaman 28

Produk Terkait:

Tags:
  • Jual Plat,Hardox,Bisalloy,Creusabro,XAR,Brinar,Sumihard,Ympress,JFE Everhard, Fora,Corten,Harga Baja,jual stainless steel,304/L, 316, 310, 3Cr12, Durinox,201,Java Steel Pipe,distributor,Master,KS, GG, wear plate, jual steel,harga steel,JIS,SNI, ASTM,grade,400,500,daftar harga, 2012,jual besi baja,Aluminium,Nabalseventh,80, 4800, Harga besi, inp, cnp,unp,WF,H-beam,besi beton,besi cor,Steel AISI,valve, harga,Plate, Boiler,flange,Plat Kapal,SS400,A36,BKI,bisplate,SPCC,SPHC,Mild steel, Spesifikasi,pagar besi, toko besi, ASTM A516 gr.70,SM490-YA /YB, ABS, abrasion,Marine,Offshore Plates,DNV,standard,tabel,bolt,nuts,berat

No Comments